Oleh: Angga Yudistira Permana
Abstrak
Abstrak
Tulisan
ini membahas mengenai teknologi perang yang digunakan di dalam Perang Sipil
Spanyol pada tahun 1936 sampai 1939. Di dalam Perang Sipil
Spanyol terjadi revolusi dalam strategi perang dan teknologi persenjataan yang
digunakan oleh pihak-pihak yang bertikai di dalamnya. Dalam
Perang Sipil Spanyol teknologi persenjataan dan strategi perang menjadi faktor
kunci dalam menentukan pihak mana yang akan muncul sebagai pemenang. Strategi
perang modern mulai diujicoba, sehingga korban yang berjatuhan tidak hanya dari
pasukan yang bertikai di medan perang, tetapi rakyat yang tidak ikut berperang
pun banyak yang menjadi korbannya.
Kata-kata kunci: strategi
perang modern, teknologi perang, Perang Sipil Spanyol.
Pengantar
Situasi Eropa setelah Perang Dunia I selesai
sangat menarik untuk dijadikan sebagai bahan kajian, khususnya jika ditinjau
dari sudut pandang sejarah perpolitikan negara-negara Eropa dalam kurun waktu
1919-1939. Banyak peristiwa penting yang terjadi di Eropa yang pada akhirnya
berimbas pada pecahnya Perang Dunia II. Salah satu hal yang sangat menarik
untuk dikaji adalah perkembangan ideologi yang muncul di Eropa, yang
mengakibatkan Eropa menjadi “terkotak-kotak” menjadi beberapa bagian. Di Eropa
Timur muncul ideologi komunis dengan Uni Soviet sebagai pusat dari kegiatan
komunisme dunia. Di Eropa Barat paham liberalis semakin kuat mengakar,
sedangkan di Eropa Tengah muncul paham fasisme yang diawali oleh Italia dan
Jerman. Ketiga ideologi tersebut kemudian saling berebut pengaruh di seluruh
daratan Eropa bahkan sampai ke luar Eropa. Pertarungan ideologi tersebut pada
akhirnya sampai juga di Spanyol yang sedang mencari “bentuk” pemerintahan yang
ideal. Hal tersebut tidak luput dari gejolak dalam bidang sosial, ekonomi, dan
politik kehidupan rakyat Spanyol.
Sejarah Eropa pada masa “diantara dua perang”,
khususnya mengenai Spanyol perlu dikaji lebih mendalam untuk melihat sejauh
mana peran penting Spanyol dalam sejarah Eropa. Hal ini tentu bukan tanpa
alasan mengingat Spanyol pernah mengalami masa kelam ketika perang sipil pecah
pada tahun 1936 sampai tauhn 1939. Perang Sipil Spanyol dapat dikatakan sebagai
miniatur perang dunia karena adanya intervensi dari negara lain yang semakin
memperkeruh gesekan antara kelompok-kelompok yang sedang bersitegang di Spanyol.
Keterlibatan dari intervensi asing di dalam Perang Sipil Spanyol inilah yang
menjadikan posisi Perang Sipil Spanyol sangat menarik untuk dikaji lebih
mendalam, apalgi jika dikaitkan dengan dimulainya periode Perang Dunia II tepat
beberapa bulan setelah Perang Sipil Spanyol berakhir.
Latar Belakang Terjadinya Perang
Sipil Spanyol
Spanyol resmi mengganti sistem pemerintahan
monarki konstitusional menjadi sebuah negara republik untuk yang kedua kalinya
pada tahun 1931 melalui mekanisme jajak pendapat. Sebelum berganti menjadi
negara republik, Spanyol merupakan sebuah negara berbentuk monarki
konstitusional. Raja Spanyol yang terakhir, Alfonso XIII, oleh rakyat dianggap
sudah tidak bisa lagi memimpin rakyat Spanyol. Bahkan pada tahun 1921 Raja
Alfonso XIII tidak bisa mengendalikan pemberontakan Riff di Maroko. Selain itu krisis yang pada waktu itu memang sedang
melanda dunia juga turut mempengaruhi kekecewaan rakyat terhadap raja yang
tidak bisa mengatasi krisis tersebut di Spanyol. Oleh karena itu, pada tahun
1931 Raja Alfonso XIII resmi diturunkan dari tahtanya dan melalui jajak
pendapat, Kerajaan Spanyol berubah menjadi Republik Spanyol ke 2 (La Segunda Republica).
Namun, selama lima tahun Spanyol berbentuk
negara republik, telah terjadi tiga kali pemilihan umum. Rakyat banyak yang
merasa tidak puas akan kinerja perdana menteri dan parlemen yang dianggap tidak
berpihak kepada mereka. Rasa tidak puas tersebut diakibatkan oleh
keanekaragaman ideologi rakyat Spanyol pada saat itu. Golongan sosialis, komunis,
dan anarkis yang berada di daerah pedesaan bergabung dalam satu kelompok untuk
melawan golongan bangsawan, agamawan, dan loyalis kerajaan (Dimyati, 1953:
40-41). Pertentangan antara kedua
kubu tersebut dikarenakan pada awal terbentuknya Republik Spanyol ke 2, perdana
menteri pertama, Manuel Azana, menerapkan kebijakan yang diskriminatif terhadap
golongan bangsawan, agamawan, dan loyalis kerajaan. Azana lebih menekankan
terhadap perbaikan kehidupan golongan menengah kebawah, namun kebijakan
tersebut tidak sepenuhnya berhasil karena banyak kalangan dari golongan
menengah ke bawah merasa tidak puas akan setiap kebijakan yang diterapkan oleh
Azana. Salah satu kebijkan Azana yang melahirkan kontroversi adalah menerapkan anti-clerical policy. Azana mencoba memisahkan
antara gereja dan pemerintahan. Bahkan ruang gerak gereja dalam kehidupan
sosial pun sangat dibatasi. Seperti yang dikemukakan oleh Black dan Helmreich (1957:
500) bahwa “In educational matters Rivera
surrendered to the clericals. He enforced uniform textbooks for the nation,
which in practice meant clerical point of view on the books of all schools”.
Selain itu menurut data yang penulis temukan (Archer, 2007; Raguer, 2007) disebutkan bahwa selama
menjalani pemerintahannya, sekitar seratus gereja dibakar, bahkan akademi
militer milik Jenderal Fransisco Franco ikut dibakar sebagai akibat dari
kedekatan Franco dengan golongan gereja. Jenderal Fransisco Franco pun pada
akhirnya akan menjadi salah satu tokoh kunci dalam revolusi Spanyol di tahun
1936 untuk menggulingkan pemerintahan republik.
Berbagai kebijakan kontroversi yang dikeluarkan
oleh Azana memicu banyak protes dan aksi yang dilakukan oleh rakyat Spanyol dan
meminta supaya Azana segera turun dari jabatannya. Hal tersebut sangat lumrah,
karena iklim demokrasi Spanyol yang masih prematur. Namun, adanya aksi-aksi
yang dilakukan oleh rakyat Spanyol dijadikan kesempatan oleh kaum oposan untuk
menyerang pemerintahan Azana dan meminta agar pemerintah segera melakukan
pemilu. Namun pemilu yang diharapkan dapat menemukan tokoh pemimpin yang cocok
untuk Spanyol tidak memberikan perubahan yang berarti. Bahkan dari tahun
1931-1936 tercatat telah dilakukan pemilihan umum sebanyak tiga kali untuk
menentukan perdana menteri dan anggota parlemen. Hal tersebut membuktikan
betapa buruknya sistem demokrasi di Spanyol dan menandakan bahwa Spanyol belum
siap menerapkan sistem pemerintahan republik di negara matador tersebut.
Permasalahan yang paling utama bukanlah pemilu
yang terlalu sering dilakukan di Spanyol, melainkan apa yang ada dibalik pemilu
tersebut. Ketika pemilu terakhir dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 1936 yang
dimenangkan oleh oleh Front Popular, yaitu gabungan partai-partai yang
pernah menjadi pemerintah pada tahun 193, sebagian besar kalangan di Spanyol
merasa kecewa. Mereka
menganggap bahwa pemerintahan Front Popular sudah gagal pada periode
sebelumnya. Akibatnya muncul kabar bahwa militer akan melakukan kudeta terhadap
pemerintah yang telah terpilih. Hal tersebut ditanggapi oleh Manuel Azana,
selaku Perdana Menteri yang kembali terpilih dengan memutasikan beberapa para
Jenderal yang dianggap akan melakukan kudeta terhadap dirinya, antara lain
Jenderal Fransisco Franco dan Jenderal Emilio Mola. Namun kebijakan yang
dikeluarkan oleh Azana tersebut menjadi blunder,
karena kedua jenderal tersebut atas usulan dari Jenderal Sanjurjo melakukan
pemberontakan di daerah tempat mereka bertugas, yaitu di Kepulauan Canary dan
Pamploma, Novarra. Pemberontakan yang dilakukan oleh golongan militer tersebut
terjadi pada tanggal 17 Juli 1936 secara serempak di titik-titik yang telah
ditentukan (Tara dan Soetrisno, 2001:339)
Pemberontakan yang paling berhasil adalah yang
dilakukan oleh Franco karena berhasil menguasai seluruh daerah Maroko sebelum
kembali ke Spanyol. Sedangkan Jenderal Sanjurjo mengalami kegagalan karena pasukan
pemerintah republik terpusat di kota-kota besar. Jenderal Emilio Mola juga
berhasil menguasai kota-kota kecil di Spanyol Selatan (Keene, 2007: 31). Selain
itu Jenderal Sanjurjo juga mengalami kecelakaan pesawat terbang sehingga tewas
pada masa awal-awal pemberontakan. Tewasnya Jenderal Sanjurjo tidak
mengurungkan niat para pemberontak, bahkan Jenderal Fransisco Franco pada
akhirnya diangkat menjadi pemimpin pemberontakan tersebut. Namun, pemberontakan
tersebut ternyata gagal karena Madrid, sebagai pusat pemerintahan masih dikuasai
oleh pemerintah republik. Walaupun gagal, aksi pemberontakan yang dilakukan
oleh kalangan militer berhasil menciptakan dualisme kekuasaan di Spanyol yang
pada akhirnya menyeret rakyat Spanyol ke arena perang sipil yang terjadi selama
tiga tahun lamanya.
Revolusi Dalam Teknologi
Persenjataan Serta Strategi Perang
Dalam beberapa sumber yang penulis temukan (Graham,
2005; Keene, 2007; Casanova, 2010) seharusnya pemberontakan yang dilakukan oleh
kalangan militer tidak perlu berdampak pada meletusnya perang sipil di Spanyol.
Namun karena kegagalan dalam menguasai pusat pemerintahan di Kota Madrid, pada
akhirnya menciptakan bentrokan antara pasukan pemberontak dan pasukan
pemerintah. Hal ini kemudian menyeret rakyat untuk ikut terlibat, karena pada
dasarnya rakyat Spanyol pun terbagi menjadi dua golongan, antara yang pro
terhadap republik dan yang mendukung upaya pemberontakan. Namun jika bentrokan
tersebut hanya terjadi pada ruang lingkup yang kecil, tentu Perang Sipil
Spanyol akan kurang menarik untuk dikaji. Perang Sipil Spanyol menarik untuk
dikaji lebih dalam karena di dalam Perang Sipil Spanyol terjadi perubahan dalam
penerapan strategi perang, dari yang sifatnya konvensional menjadi modern dan
belum pernah terjadi dalam perang-perang sebelumnya.
Peralihan dari perang konvensional menjadi perang
modern di dalam Perang Sipil Spanyol sangat dipengaruhi oleh teknologi
persenjataan yang digunakan didalamnya. Teknologi persenjataan yang sangat
canggih di dalam Perang Sipil Spanyol tidak lepas dari intervensi asing di
dalamnya. Jerman, Italia, dan Uni Soviet menjadi negara yang bertanggung jawab
atas kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat dari Perang Sipil Spanyol. Di sini
peran Franco sebagai pemimpin dari pasukan pemberontak sangat terlihat. Dengan
menggunakan kaum fasis yang ikut berjuang bersamanya, ia kemudian meminta
kepada Hitler untuk mengirimkan bantuan persenjataan guna menjatuhkan
pemerintahan republik dan menjadikan Spanyol sebagai negara fasis sebagaimana
Jerman dan Italia. Menanggapi hal tersebut, Hitler kemudian mengirimkan tentara
Jerman ke Maroko guna di mobilisasi oleh Franco. Selain itu Hitler pun meminta
Mussolini untuk ikut terlibat di dalam Perang Sipil Spanyol agar pasukan Franco
menjadi lebih kuat. Namun, pemerintah republik pun melakukan hal yang sama
yakni meminta bantuan kepada Perancis untuk membantu pasukan pemerintah melawan
pemberontakan yang dipimpin oleh Franco (Elson, 1979: 170).
Bantuan yang diberikan Jerman, Italia dan Perancis
kepada pihak nasionalis dan loyalis diperkirakan akan menciptakan situasi yang
sangat mengerikan di Spanyol. Untuk mencegah korban sipil banyak yang
berjatuhan, maka pada tanggal 24 Agustus 1936 diadakan deklarasi non-intervention yang dilakukan oleh
hampir seluruh negara Eropa termasuk Perancis, Jerman, dan Italia (kecuali
Swiss, karena didalam konstitusinya dituliskan bahwa Swiss akan selalu bersikap
netral jika terjadi konflik di negara lain) (Casanova, 2010: 215-16). Namun sikap
netralitas negara-negara asing tersebut tidak merubah keadaan di dalam negeri
Spanyol, karena tentara Jerman dan Italia yang sudah berada di Maroko tidak
ditarik kembali. Hal ini terlihat ketika pasukan Franco dengan bantuan angkatan
udara Jerman berhasil menghancurkan angkatan laut pemerintah Spanyol dan oleh
karenanya Franco dapat mengangkut sejumlah pasukan dari Korps Afrika untuk
bergabung dengannya.
Sepanjang bulan November 1936 sampai Maret 1937 pasukan
pemberontak terus menggempur Madrid baik dari darat maupun udara, namun hal
tersebut tidak menciptakan perubahan apapun. Madrid masih dikuasai oleh pasukan
pro pemerintah yang dibantu International Brigades. Ketidakmampuan pasukan
pemberontak untuk menaklukan Madrid, mendorong Mussolini untuk mengirimkan
pasukan tambahan dari Italia ke Madrid. Di sini terlihat sifat Mussolini yang
sangat ambisius dan ingin membuktikan bahwa dengan bergabungnya pasukan Italia,
Franco akan lebih mudah menaklukan Madrid. Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Elson (1979: 172) bahwa “When 30.000 Italian troops went into combat from
post well north of Madrid, Mussolino announced, ‘I am certain that the dash and
tenacity of our legionaries will sweep away the enemy’s resistance’”.
Melihat keadaan yang statis di
daerah yang berbatasan dengan Kota Madrid membuat Franco mulai frustasi. Ia
kemudian memutuskan untuk menyerang kota-kota basis pasukan pemerintah lainnya
yang dianggap lemah. Dalam melancarkan usahanya tersebut, Franco menggunakan
strategi blietzkrieg, yakni serangan kilat yang dapat melumpuhkan sebuah
kota dalam keadaan sekejap. Strategi ini digunakan karena bantuan persenjataan
dari Jerman sangat memungkinkan Franco untuk melakukan serangan kilat. Selain
pesawat tempur Luftwaffe, Hitler juga memberikan bantuan berupa tank-tank
yang sangat berguna dalam melakukan mobilitas di darat. Jumlah tank yang
dimiliki pasukan pemberontak semakin bertambah banyak karena adanya tank yang
dikirim oleh Mussolini. Serangan pertama setelah beberapa bulan lamanya
tertahan di Madrid dilakukan oleh pasukan pemberontak ke Kota Durango pada
tanggal 31 Maret 1937. Setelah itu, pada tanggal 26 April pasukan pemberontak
berhasil menghancurkan Guernica, dan pada tanggal 19 Juni giliran Bilbao yang
diserang oleh pasukan pemberontak. Serangan tersebut bertujuan untuk
menghancurkan moral rakyat sipil yang mendukung pemerintahan republik serta
untuk memutus jalur komunikasi di darat. Penyerangan yang paling dahsyat adalah
penyerangan yang dilakukan terhadap Guernica, yang disebut oleh Elson (1979:
172) sebagai “a symbol of total war”.
Akibat dari serangan yang
dilakukan oleh pasukan pemberontak yang dibantu oleh “sekutunya” Jerman dan
Italia di Kota Guernica, banyak korban sipil yang berjatuhan, bahkan menurut
Elson (1979: 170) disebutkan bahwa “A group of woman and children were
lifted high into the air, maybe twenty feet or so, and they started to break
up. Legs, arms, heads, and bits and pieces flying everywhere”. Tidak sampai
disana, gelombang serangan udara juga datang secara terus menerus sampai
menjelang malam. Menurut beberapa sumber yang penulis temukan (Elson, 1979;
Casanova, 2010) disebutkan jumlah korban yang jatuh dalam serangan tersebut
sekitar 2.100 orang, 1.600 tewas, sedangkan 900 lainnya mengalami luka-luka.
Serangan kilat melalui udara yang
dilakukan oleh Franco dengan bantuan pesawat Luftwaffe Jerman terhadap
Guernica, merupakan salah satu pengaruh yang diakibatkan adanya campur tangan
asing dalam Perang Sipil Spanyol. Bahkan penggunaan strategi serangan kilat
seperti itu merupakan strategi yang digunakan oleh Jerman pada Perang Dunia II.
Oleh karena itu, penulis dapat mengambil sebuah kesimpulan awal bahwa Perang
Sipil Spanyol merupakan arena tempat uji coba berbagai persenjataan dan
strategi perang yang nantinya akan digunakan dalam Perang Dunia II. Tank-tank
yang digunakan oleh Jerman dalam Perang Dunia II merupakan tank generasi ke
empat, setelah pada perang sipil Spanyol tank generasi pertama (PzKpfw I),
PzKpfw II, dan PzKpfw III beberapa kali mengalami kekalahan dalam pertempuran
melawan tank dari Uni Soviet (Srivanto, 2008: 24-25).
Akibat dari teknologi persenjataan yang
dimiliki oleh Franco yang jauh lebih canggih beserta jumlah pasukan yang sangat
besar jumlahnya dibandingkan dengan yang dimiliki oleh pasukan republik, menyebabkan
keadaan perang tidak seimbang. Sehingga pada akhirnya pasukan Franco dapat
mengambil alih pemerintahan Spanyol sepenuhnya pada tanggal 28 Maret 1939 dengan ditandai oleh jatuhnya
Kota Madrid setelah terkepung selama 28 bulan lamanya (Crompton, 2007: 124).
Daftar Bacaan
Archer, J. (2007). Kisah Para Diktator: Biografi Politik Para
Penguasa Fasis, Komunis, Despotis, dan Tiran. Yogyakarta: Narasi.
Black, C.E. dan Helmreich, E.C. (1966). Twentieth Century Europe: A History. New York: Alfred. A. Knopf.
Casanova, J. (2010). The Spanish Republic and Civil War.
Cambridge: Cambridge University Press.
Crompton, S. (2007). 100
Peperangan Yang Berpengaruh Dalam Sejarah Dunia. Tangerang: Karisma
Publishing Group.
Dimyati, M. (1953). Sedjarah Perang Dunia. Jakarta: Bulan
Bintang.
Elson, R.T. (1979). World War II:
Prelude To War. Illionis: Time-Life Book.
Graham, H. (2005). The Spanish Civil War: A Very Short Introduction.
New York: Oxford University Press.
Keene, J. (2001). Fighting For Franco: International Volunteers in
Nationalist Spain During The Spanish Civil War. New York: Hambledon
Continuum.
Raguer, H. (2007). Gunpowder and Incense: The Catholic Church and
The Spanish Civil War. New York: Routledge.
Srivanto, F.R. (2008). das Panzer: Strategi dan Taktik Lapis Baja
Jerman 1935-1945. Yogyakarta: Narasi.
Tara, R dan Soetrisno, E. (2001). Tokoh
dan Peristiwa Sepanjang Masa. Jakarta: Intimedia dan Ladang Pustaka.