Total Tayangan Halaman

Kamis, 05 April 2012

Modern Total War Dalam Perang Sipil Spanyol 1936-1939


Oleh: Angga Yudistira Permana


Abstrak
Tulisan ini membahas mengenai teknologi perang yang digunakan di dalam Perang Sipil Spanyol pada tahun 1936 sampai 1939. Di dalam Perang Sipil Spanyol terjadi revolusi dalam strategi perang dan teknologi persenjataan yang digunakan oleh pihak-pihak yang bertikai di dalamnya. Dalam Perang Sipil Spanyol teknologi persenjataan dan strategi perang menjadi faktor kunci dalam menentukan pihak mana yang akan muncul sebagai pemenang. Strategi perang modern mulai diujicoba, sehingga korban yang berjatuhan tidak hanya dari pasukan yang bertikai di medan perang, tetapi rakyat yang tidak ikut berperang pun banyak yang menjadi korbannya.
Kata-kata kunci: strategi perang modern, teknologi perang, Perang Sipil Spanyol.

Pengantar
Situasi Eropa setelah Perang Dunia I selesai sangat menarik untuk dijadikan sebagai bahan kajian, khususnya jika ditinjau dari sudut pandang sejarah perpolitikan negara-negara Eropa dalam kurun waktu 1919-1939. Banyak peristiwa penting yang terjadi di Eropa yang pada akhirnya berimbas pada pecahnya Perang Dunia II. Salah satu hal yang sangat menarik untuk dikaji adalah perkembangan ideologi yang muncul di Eropa, yang mengakibatkan Eropa menjadi “terkotak-kotak” menjadi beberapa bagian. Di Eropa Timur muncul ideologi komunis dengan Uni Soviet sebagai pusat dari kegiatan komunisme dunia. Di Eropa Barat paham liberalis semakin kuat mengakar, sedangkan di Eropa Tengah muncul paham fasisme yang diawali oleh Italia dan Jerman. Ketiga ideologi tersebut kemudian saling berebut pengaruh di seluruh daratan Eropa bahkan sampai ke luar Eropa. Pertarungan ideologi tersebut pada akhirnya sampai juga di Spanyol yang sedang mencari “bentuk” pemerintahan yang ideal. Hal tersebut tidak luput dari gejolak dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik kehidupan rakyat Spanyol.
Sejarah Eropa pada masa “diantara dua perang”, khususnya mengenai Spanyol perlu dikaji lebih mendalam untuk melihat sejauh mana peran penting Spanyol dalam sejarah Eropa. Hal ini tentu bukan tanpa alasan mengingat Spanyol pernah mengalami masa kelam ketika perang sipil pecah pada tahun 1936 sampai tauhn 1939. Perang Sipil Spanyol dapat dikatakan sebagai miniatur perang dunia karena adanya intervensi dari negara lain yang semakin memperkeruh gesekan antara kelompok-kelompok yang sedang bersitegang di Spanyol. Keterlibatan dari intervensi asing di dalam Perang Sipil Spanyol inilah yang menjadikan posisi Perang Sipil Spanyol sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam, apalgi jika dikaitkan dengan dimulainya periode Perang Dunia II tepat beberapa bulan setelah Perang Sipil Spanyol berakhir.

Latar Belakang Terjadinya Perang Sipil Spanyol
Spanyol resmi mengganti sistem pemerintahan monarki konstitusional menjadi sebuah negara republik untuk yang kedua kalinya pada tahun 1931 melalui mekanisme jajak pendapat. Sebelum berganti menjadi negara republik, Spanyol merupakan sebuah negara berbentuk monarki konstitusional. Raja Spanyol yang terakhir, Alfonso XIII, oleh rakyat dianggap sudah tidak bisa lagi memimpin rakyat Spanyol. Bahkan pada tahun 1921 Raja Alfonso XIII tidak bisa mengendalikan pemberontakan Riff di Maroko. Selain itu krisis yang pada waktu itu memang sedang melanda dunia juga turut mempengaruhi kekecewaan rakyat terhadap raja yang tidak bisa mengatasi krisis tersebut di Spanyol. Oleh karena itu, pada tahun 1931 Raja Alfonso XIII resmi diturunkan dari tahtanya dan melalui jajak pendapat, Kerajaan Spanyol berubah menjadi Republik Spanyol ke 2 (La Segunda Republica).
Namun, selama lima tahun Spanyol berbentuk negara republik, telah terjadi tiga kali pemilihan umum. Rakyat banyak yang merasa tidak puas akan kinerja perdana menteri dan parlemen yang dianggap tidak berpihak kepada mereka. Rasa tidak puas tersebut diakibatkan oleh keanekaragaman ideologi rakyat Spanyol pada saat itu. Golongan sosialis, komunis, dan anarkis yang berada di daerah pedesaan bergabung dalam satu kelompok untuk melawan golongan bangsawan, agamawan, dan loyalis kerajaan (Dimyati, 1953: 40-41). Pertentangan antara kedua kubu tersebut dikarenakan pada awal terbentuknya Republik Spanyol ke 2, perdana menteri pertama, Manuel Azana, menerapkan kebijakan yang diskriminatif terhadap golongan bangsawan, agamawan, dan loyalis kerajaan. Azana lebih menekankan terhadap perbaikan kehidupan golongan menengah kebawah, namun kebijakan tersebut tidak sepenuhnya berhasil karena banyak kalangan dari golongan menengah ke bawah merasa tidak puas akan setiap kebijakan yang diterapkan oleh Azana. Salah satu kebijkan Azana yang melahirkan kontroversi adalah menerapkan anti-clerical policy. Azana mencoba memisahkan antara gereja dan pemerintahan. Bahkan ruang gerak gereja dalam kehidupan sosial pun sangat dibatasi. Seperti yang dikemukakan oleh Black dan Helmreich (1957: 500) bahwa “In educational matters Rivera surrendered to the clericals. He enforced uniform textbooks for the nation, which in practice meant clerical point of view on the books of all schools”. Selain itu menurut data yang penulis temukan (Archer, 2007; Raguer, 2007) disebutkan bahwa selama menjalani pemerintahannya, sekitar seratus gereja dibakar, bahkan akademi militer milik Jenderal Fransisco Franco ikut dibakar sebagai akibat dari kedekatan Franco dengan golongan gereja. Jenderal Fransisco Franco pun pada akhirnya akan menjadi salah satu tokoh kunci dalam revolusi Spanyol di tahun 1936 untuk menggulingkan pemerintahan republik.
Berbagai kebijakan kontroversi yang dikeluarkan oleh Azana memicu banyak protes dan aksi yang dilakukan oleh rakyat Spanyol dan meminta supaya Azana segera turun dari jabatannya. Hal tersebut sangat lumrah, karena iklim demokrasi Spanyol yang masih prematur. Namun, adanya aksi-aksi yang dilakukan oleh rakyat Spanyol dijadikan kesempatan oleh kaum oposan untuk menyerang pemerintahan Azana dan meminta agar pemerintah segera melakukan pemilu. Namun pemilu yang diharapkan dapat menemukan tokoh pemimpin yang cocok untuk Spanyol tidak memberikan perubahan yang berarti. Bahkan dari tahun 1931-1936 tercatat telah dilakukan pemilihan umum sebanyak tiga kali untuk menentukan perdana menteri dan anggota parlemen. Hal tersebut membuktikan betapa buruknya sistem demokrasi di Spanyol dan menandakan bahwa Spanyol belum siap menerapkan sistem pemerintahan republik di negara matador tersebut.
Permasalahan yang paling utama bukanlah pemilu yang terlalu sering dilakukan di Spanyol, melainkan apa yang ada dibalik pemilu tersebut. Ketika pemilu terakhir dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 1936 yang dimenangkan oleh oleh Front Popular, yaitu gabungan partai-partai yang pernah menjadi pemerintah pada tahun 193, sebagian besar kalangan di Spanyol merasa kecewa. Mereka menganggap bahwa pemerintahan Front Popular sudah gagal pada periode sebelumnya. Akibatnya muncul kabar bahwa militer akan melakukan kudeta terhadap pemerintah yang telah terpilih. Hal tersebut ditanggapi oleh Manuel Azana, selaku Perdana Menteri yang kembali terpilih dengan memutasikan beberapa para Jenderal yang dianggap akan melakukan kudeta terhadap dirinya, antara lain Jenderal Fransisco Franco dan Jenderal Emilio Mola. Namun kebijakan yang dikeluarkan oleh Azana tersebut menjadi blunder, karena kedua jenderal tersebut atas usulan dari Jenderal Sanjurjo melakukan pemberontakan di daerah tempat mereka bertugas, yaitu di Kepulauan Canary dan Pamploma, Novarra. Pemberontakan yang dilakukan oleh golongan militer tersebut terjadi pada tanggal 17 Juli 1936 secara serempak di titik-titik yang telah ditentukan (Tara dan Soetrisno, 2001:339)
Pemberontakan yang paling berhasil adalah yang dilakukan oleh Franco karena berhasil menguasai seluruh daerah Maroko sebelum kembali ke Spanyol. Sedangkan Jenderal Sanjurjo mengalami kegagalan karena pasukan pemerintah republik terpusat di kota-kota besar. Jenderal Emilio Mola juga berhasil menguasai kota-kota kecil di Spanyol Selatan (Keene, 2007: 31). Selain itu Jenderal Sanjurjo juga mengalami kecelakaan pesawat terbang sehingga tewas pada masa awal-awal pemberontakan. Tewasnya Jenderal Sanjurjo tidak mengurungkan niat para pemberontak, bahkan Jenderal Fransisco Franco pada akhirnya diangkat menjadi pemimpin pemberontakan tersebut. Namun, pemberontakan tersebut ternyata gagal karena Madrid, sebagai pusat pemerintahan masih dikuasai oleh pemerintah republik. Walaupun gagal, aksi pemberontakan yang dilakukan oleh kalangan militer berhasil menciptakan dualisme kekuasaan di Spanyol yang pada akhirnya menyeret rakyat Spanyol ke arena perang sipil yang terjadi selama tiga tahun lamanya.

Revolusi Dalam Teknologi Persenjataan Serta Strategi Perang
Dalam beberapa sumber yang penulis temukan (Graham, 2005; Keene, 2007; Casanova, 2010) seharusnya pemberontakan yang dilakukan oleh kalangan militer tidak perlu berdampak pada meletusnya perang sipil di Spanyol. Namun karena kegagalan dalam menguasai pusat pemerintahan di Kota Madrid, pada akhirnya menciptakan bentrokan antara pasukan pemberontak dan pasukan pemerintah. Hal ini kemudian menyeret rakyat untuk ikut terlibat, karena pada dasarnya rakyat Spanyol pun terbagi menjadi dua golongan, antara yang pro terhadap republik dan yang mendukung upaya pemberontakan. Namun jika bentrokan tersebut hanya terjadi pada ruang lingkup yang kecil, tentu Perang Sipil Spanyol akan kurang menarik untuk dikaji. Perang Sipil Spanyol menarik untuk dikaji lebih dalam karena di dalam Perang Sipil Spanyol terjadi perubahan dalam penerapan strategi perang, dari yang sifatnya konvensional menjadi modern dan belum pernah terjadi dalam perang-perang sebelumnya.
Peralihan dari perang konvensional menjadi perang modern di dalam Perang Sipil Spanyol sangat dipengaruhi oleh teknologi persenjataan yang digunakan didalamnya. Teknologi persenjataan yang sangat canggih di dalam Perang Sipil Spanyol tidak lepas dari intervensi asing di dalamnya. Jerman, Italia, dan Uni Soviet menjadi negara yang bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat dari Perang Sipil Spanyol. Di sini peran Franco sebagai pemimpin dari pasukan pemberontak sangat terlihat. Dengan menggunakan kaum fasis yang ikut berjuang bersamanya, ia kemudian meminta kepada Hitler untuk mengirimkan bantuan persenjataan guna menjatuhkan pemerintahan republik dan menjadikan Spanyol sebagai negara fasis sebagaimana Jerman dan Italia. Menanggapi hal tersebut, Hitler kemudian mengirimkan tentara Jerman ke Maroko guna di mobilisasi oleh Franco. Selain itu Hitler pun meminta Mussolini untuk ikut terlibat di dalam Perang Sipil Spanyol agar pasukan Franco menjadi lebih kuat. Namun, pemerintah republik pun melakukan hal yang sama yakni meminta bantuan kepada Perancis untuk membantu pasukan pemerintah melawan pemberontakan yang dipimpin oleh Franco (Elson, 1979: 170).
Bantuan yang diberikan Jerman, Italia dan Perancis kepada pihak nasionalis dan loyalis diperkirakan akan menciptakan situasi yang sangat mengerikan di Spanyol. Untuk mencegah korban sipil banyak yang berjatuhan, maka pada tanggal 24 Agustus 1936 diadakan deklarasi non-intervention yang dilakukan oleh hampir seluruh negara Eropa termasuk Perancis, Jerman, dan Italia (kecuali Swiss, karena didalam konstitusinya dituliskan bahwa Swiss akan selalu bersikap netral jika terjadi konflik di negara lain) (Casanova, 2010: 215-16). Namun sikap netralitas negara-negara asing tersebut tidak merubah keadaan di dalam negeri Spanyol, karena tentara Jerman dan Italia yang sudah berada di Maroko tidak ditarik kembali. Hal ini terlihat ketika pasukan Franco dengan bantuan angkatan udara Jerman berhasil menghancurkan angkatan laut pemerintah Spanyol dan oleh karenanya Franco dapat mengangkut sejumlah pasukan dari Korps Afrika untuk bergabung dengannya.
Sepanjang bulan November 1936 sampai Maret 1937 pasukan pemberontak terus menggempur Madrid baik dari darat maupun udara, namun hal tersebut tidak menciptakan perubahan apapun. Madrid masih dikuasai oleh pasukan pro pemerintah yang dibantu International Brigades. Ketidakmampuan pasukan pemberontak untuk menaklukan Madrid, mendorong Mussolini untuk mengirimkan pasukan tambahan dari Italia ke Madrid. Di sini terlihat sifat Mussolini yang sangat ambisius dan ingin membuktikan bahwa dengan bergabungnya pasukan Italia, Franco akan lebih mudah menaklukan Madrid. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Elson (1979: 172) bahwa “When 30.000 Italian troops went into combat from post well north of Madrid, Mussolino announced, ‘I am certain that the dash and tenacity of our legionaries will sweep away the enemy’s resistance’”.
Melihat keadaan yang statis di daerah yang berbatasan dengan Kota Madrid membuat Franco mulai frustasi. Ia kemudian memutuskan untuk menyerang kota-kota basis pasukan pemerintah lainnya yang dianggap lemah. Dalam melancarkan usahanya tersebut, Franco menggunakan strategi blietzkrieg, yakni serangan kilat yang dapat melumpuhkan sebuah kota dalam keadaan sekejap. Strategi ini digunakan karena bantuan persenjataan dari Jerman sangat memungkinkan Franco untuk melakukan serangan kilat. Selain pesawat tempur Luftwaffe, Hitler juga memberikan bantuan berupa tank-tank yang sangat berguna dalam melakukan mobilitas di darat. Jumlah tank yang dimiliki pasukan pemberontak semakin bertambah banyak karena adanya tank yang dikirim oleh Mussolini. Serangan pertama setelah beberapa bulan lamanya tertahan di Madrid dilakukan oleh pasukan pemberontak ke Kota Durango pada tanggal 31 Maret 1937. Setelah itu, pada tanggal 26 April pasukan pemberontak berhasil menghancurkan Guernica, dan pada tanggal 19 Juni giliran Bilbao yang diserang oleh pasukan pemberontak. Serangan tersebut bertujuan untuk menghancurkan moral rakyat sipil yang mendukung pemerintahan republik serta untuk memutus jalur komunikasi di darat. Penyerangan yang paling dahsyat adalah penyerangan yang dilakukan terhadap Guernica, yang disebut oleh Elson (1979: 172) sebagai “a symbol of total war”.
Akibat dari serangan yang dilakukan oleh pasukan pemberontak yang dibantu oleh “sekutunya” Jerman dan Italia di Kota Guernica, banyak korban sipil yang berjatuhan, bahkan menurut Elson (1979: 170) disebutkan bahwa “A group of woman and children were lifted high into the air, maybe twenty feet or so, and they started to break up. Legs, arms, heads, and bits and pieces flying everywhere”. Tidak sampai disana, gelombang serangan udara juga datang secara terus menerus sampai menjelang malam. Menurut beberapa sumber yang penulis temukan (Elson, 1979; Casanova, 2010) disebutkan jumlah korban yang jatuh dalam serangan tersebut sekitar 2.100 orang, 1.600 tewas, sedangkan 900 lainnya mengalami luka-luka.
Serangan kilat melalui udara yang dilakukan oleh Franco dengan bantuan pesawat Luftwaffe Jerman terhadap Guernica, merupakan salah satu pengaruh yang diakibatkan adanya campur tangan asing dalam Perang Sipil Spanyol. Bahkan penggunaan strategi serangan kilat seperti itu merupakan strategi yang digunakan oleh Jerman pada Perang Dunia II. Oleh karena itu, penulis dapat mengambil sebuah kesimpulan awal bahwa Perang Sipil Spanyol merupakan arena tempat uji coba berbagai persenjataan dan strategi perang yang nantinya akan digunakan dalam Perang Dunia II. Tank-tank yang digunakan oleh Jerman dalam Perang Dunia II merupakan tank generasi ke empat, setelah pada perang sipil Spanyol tank generasi pertama (PzKpfw I), PzKpfw II, dan PzKpfw III beberapa kali mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan tank dari Uni Soviet (Srivanto, 2008: 24-25).
Akibat dari teknologi persenjataan yang dimiliki oleh Franco yang jauh lebih canggih beserta jumlah pasukan yang sangat besar jumlahnya dibandingkan dengan yang dimiliki oleh pasukan republik, menyebabkan keadaan perang tidak seimbang. Sehingga pada akhirnya pasukan Franco dapat mengambil alih pemerintahan Spanyol sepenuhnya pada tanggal  28 Maret 1939 dengan ditandai oleh jatuhnya Kota Madrid setelah terkepung selama 28 bulan lamanya (Crompton, 2007: 124).


Daftar Bacaan

Archer, J. (2007). Kisah Para Diktator: Biografi Politik Para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis, dan Tiran. Yogyakarta: Narasi.

Black, C.E. dan Helmreich, E.C. (1966). Twentieth Century Europe: A History. New York: Alfred. A. Knopf.

Casanova, J. (2010). The Spanish Republic and Civil War. Cambridge: Cambridge University Press.

Crompton, S. (2007). 100 Peperangan Yang Berpengaruh Dalam Sejarah Dunia. Tangerang: Karisma Publishing Group.

Dimyati, M. (1953). Sedjarah Perang Dunia. Jakarta: Bulan Bintang.

Elson, R.T. (1979). World War II: Prelude To War. Illionis: Time-Life Book.
Graham, H. (2005). The Spanish Civil War: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.

Keene, J. (2001). Fighting For Franco: International Volunteers in Nationalist Spain During The Spanish Civil War. New York: Hambledon Continuum.

Raguer, H. (2007). Gunpowder and Incense: The Catholic Church and The Spanish Civil War. New York: Routledge.

Srivanto, F.R. (2008). das Panzer: Strategi dan Taktik Lapis Baja Jerman 1935-1945. Yogyakarta: Narasi.

Tara, R dan Soetrisno, E. (2001). Tokoh dan Peristiwa Sepanjang Masa. Jakarta: Intimedia dan Ladang Pustaka.